2.244 Hektare Dilalap Karhutla di Kayong Utara, Simpang Hilir Terparah

2 Min Read

Pewarta: Irvan / Redaksi : Rizal

KAYONG UTARA, [Radarkalbar] – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, terus menjadi ancaman serius. Sepanjang Januari hingga September 2026, total luasan lahan yang terbakar mencapai 2.244 hektare, dengan Kecamatan Simpang Hilir mencatat luasan kebakaran terbesar.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kayong Utara menunjukkan, kebakaran tersebar di empat kecamatan. Simpang Hilir dan Sukadana menjadi dua wilayah dengan luasan karhutla paling tinggi, masing-masing mencapai 978 hektare dan 926 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kayong Utara, Fathul Bahri, mengatakan data tersebut merupakan akumulasi laporan kejadian karhutla selama sembilan bulan pertama 2026.

“Ini data kebakaran hutan dan lahan Kabupaten Kayong Utara per kecamatan dari Januari sampai September kemarin,” kata Fathul Bahri di Sukadana.

Berdasarkan rekapitulasi BPBD, luasan karhutla di masing-masing kecamatan meliputi:

– Simpang Hilir: 978 hektare

– Sukadana: 926 hektare

– Pulau Maya: 327 hektare

– Teluk Batang: 67 hektare

“Total yang terbakar dua ribu dua ratus empat puluh empat hektare,” ujar Fathul.

Besarnya luasan kebakaran di Simpang Hilir dan Sukadana menjadi perhatian serius. Kedua kecamatan tersebut menyumbang sebagian besar dari total luasan karhutla yang tercatat di Kayong Utara selama periode tersebut.

Ancaman karhutla tidak hanya terjadi di kawasan hutan. Berdasarkan data BPBD, sebagian besar kebakaran justru tercatat di Area Penggunaan Lain (APL), yakni mencapai 1.400 hektare.

Sementara itu, sebanyak 767 hektare kebakaran tercatat berada di kawasan Taman Nasional dan 68 hektare di kawasan hutan produksi.

“Kalau yang di APL itu seribu empat ratus hektare. Kalau di kawasan Taman Nasional tujuh ratus enam puluh tujuh hektare,” jelas Fathul.

Tingginya luasan kebakaran di APL menjadi catatan penting bagi upaya pengendalian karhutla. Di sisi lain, kebakaran yang mencapai ratusan hektare di kawasan Taman Nasional menunjukkan bahwa kawasan konservasi juga menghadapi tekanan serius akibat kebakaran.

Kondisi ini menuntut penguatan langkah pencegahan, pemantauan titik rawan, kesiapsiagaan personel, serta koordinasi lintas instansi agar kebakaran tidak terus meluas.

 

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page

Exit mobile version