Kekeringan Ancam Produksi Padi di Kayong Utara, Petani Kesulitan Tanam

Administrator
3 Min Read

Pewarta: Irvan/ Redaksi: Rizal

KAYONG UTARA, [Radarkalbar]-  Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, mulai berdampak terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Berkurangnya debit air akibat minimnya hujan membuat petani kesulitan mengolah lahan hingga melakukan penanaman.

Pengamat Pertanian Kayong Utara, Jili Jusuf, mengatakan kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketahanan pangan daerah karena tanaman padi sangat bergantung pada ketersediaan air untuk pertumbuhan hingga proses pengisian bulir.

“Kalau di musim kemarau ini sangat berdampak terhadap ketahanan pangan, terutama tanaman padi,” ujar Jili.

Menurutnya, berkurangnya debit air menyebabkan proses pengolahan lahan menjadi terlambat. Petani juga mengalami keterlambatan masa tanam karena lahan tidak memiliki cukup air.

“Petani saat ini terdampak dengan kekeringan karena debit air semakin berkurang. Lama tidak hujan sehingga dampaknya kepada sawah, pengolahan lahannya terlambat dan juga terlambat tanam,” katanya.

Jili menyebut kondisi tersebut tidak selalu berujung pada gagal panen, tetapi hasil produksi berpotensi jauh dari maksimal. Kekurangan air membuat pertumbuhan tanaman terganggu sehingga hasil panen dan keuntungan petani ikut menurun.

“Paling tidak hasilnya kurang maksimal, hasilnya minim dan keuntungannya sedikit karena kekurangan air tadi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kekeringan juga menjadi persoalan serius bagi tanaman yang sudah ditanam, terutama ketika memasuki fase pengisian bulir. Jika tanaman kekurangan air pada fase tersebut, produktivitas padi dapat turun drastis.

“Yang sudah tanam itu rentannya padi dengan pengisian buah sehingga hasil panen boleh dikatakan gagal. Walaupun dikasih pupuk, tapi kalau tidak ada air, padi tidak bisa berkembang dan tumbuh dengan baik,” jelasnya.

Selain mengancam tanaman yang sudah tumbuh, kekeringan juga membuat sebagian petani kesulitan memulai musim tanam. Petani mengalami kendala sejak proses penyemaian karena tidak tersedianya air yang cukup.

“Petani banyak gagal tanam. Mereka tidak bisa menyemai. Ketika bisa menyemai pun mereka tidak bisa tanam karena lahannya kering, tidak ada air,” kata Jili.

Menurut Jili, sejumlah wilayah yang dinilai rentan terdampak kekeringan pada sektor pertanian padi antara lain Desa Sedahan Jaya, Benawai Agung, Harapan Mulia, dan Pangkal Buluh.

Kondisi semakin mengkhawatirkan karena sumber air yang selama ini dimanfaatkan petani juga mengalami penurunan debit. Bahkan, sejumlah sumber air dari kawasan pegunungan mulai mengalami kekeringan.

“Sumber air dari gunung pun sudah mulai kecil debitnya, bahkan sudah mulai kering,” ujarnya.

Jika kondisi kemarau dan minimnya hujan terus berlangsung, Jili menilai risiko terhadap produktivitas padi akan semakin besar. Kekeringan bukan hanya berdampak pada petani secara ekonomi, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan masyarakat di Kayong Utara.

Share This Article
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page